Pada suatu kesempatan penulis
akan menuju lantai empat, di dalam lift
bertemu dengan sekumpulan Calon Pegawa Negeri Sipil (CPNS) yang juga menuju ke
lantai yang sama. Salah satu diantara mereka bergaya layaknya remaja masa kini
yang tidak lepas dari gadget dengan earphone menempel di telinga. Beberapa
diantara yang lain sedang asyik fokus memandang layar smartphone sambil memainkan jemari lincah mereka entah sedang chating dengan sesama temannya ataukah
sekedar browsing mencari informasi.
Merekapun tampak asyik dengan mainan mereka tanpa merasa perlu memedulikan
lingkungan di sekitarnya. Itulah sekelumit pemandangan yang sering penulis
temui dalam beberapa kesempatan di tempat yang berbeda. Pada suatu kesempatan
yang lain seorang kolega penulis sedikit mengeluh mengenai profile CPNS saat ini yang menurutnya
cuek, kurang tata krama, dan
cenderung asyik dengan diri sendiri. Lalu keluhnya lagi bagaimana mereka nanti
mampu memainkan peran di lingkungan birokrasi di Indonesia kalau atribut-atribut
tersebut terus melekat di kalangan mereka.
Sekelumit keluhan di
atas merupak gambaran nyata generasi CPNS saat ini di satu sisi dan pada sisi
yang lain adanya kekhawatiran, kekurang fahaman dan ketidaksiapan generasi
sebelumnya atas munculnya fenomena yang terjadi. Bahkan tidak sedikit diantara
para generasi pendahulu CPNS ini seringkali menyalahkan mereka. Kalau kita
cermati lebih jauh bahwa para CPNS saat ini merupakan generasi yang lahir di
sekitar tahun 1990-an dan sering diklasifikasikan sebagai generasi Y atau
generasi milenium. Setiap generasi
(generasi Baby Boomer, Generasi X) mempunyai karakteristik masing-masing,
demikian halnya dengan generasi Y. Dengan mengetahui dan memahami kerakteristik
generasi Y diharapkan tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai sikap dan
perilaku CPNS saat ini, bahkan sebaliknya kita dapat membuat strategi jitu atau
menyikapi hal tersebut untuk memaksimalkan peran dan kinerja mereka.
Generasi
Y
Beberapa karakteristik
generasi Y sebagaimana dilansir oleh (Femina, 2012) antara lain: Pertama, generasi ini lebih suka menggunakan
teknologi dibandingkan dengan melakukan pekerjaan secara manual, bahkan terlalu peduli dengan
teknologi terbaru. Generasi
Y
merupakan generasi yang tumbuh di tengah hiruk-pikuknya perkembangan teknologi wireless sehingga kecanggihan teknologi
informasi sangat memengaruhi kepekaan
gen Y terhadap perubahan. Umumnya mereka tidak takut dengan perubahan, namun
sering kali tak sabar dengan proses menuju perubahan itu sendiri. Mereka adalah
generasi yang akrab dengan internet dan sangat aktif dalam media jejaring
sosial. Mereka sangat techno-minded
dan berinteraksi lebih banyak melalui gadget (Skype, Whatsapp, Blackberry, Twitter, Facebook) dengan teman dan
komunitasnya. Kedua, Generasi Y merupakan
generasi yang andal, penuh kejutan dengan menelurkan ide-ide brilian sehingga selalu ingin
coba-coba, namun demikian mereka umumnya mempunyai toleransi yang tinggi. Ketiga, Generasi Y juga
pintar, aktif, dan agresif sehingga mereka
juga tergolong hebat dalam mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan.
Contohnya, sambil mendengarkan musik lewat iPod yang menempel di telinga,
mereka bisa menulis e-mail di tablet,
sekaligus chatting dari smartphone-nya. Keempat, penampilan kasual dan santai menjadi ciri khas generasi
ini, sehingga kesan serius pun jarang muncul. Akibatnya, generasi pendahulu
sering beranggapan bahwa generasi Y seolah-olah tidak serius dan tidak disiplin.
Generasi Y merupakan pribadi yang bekerja untuk dapat menerapkan
kreativitasnya, serta mencari lingkungan kerja yang santai penuh hura-hura.
Mereka bekerja tidak terlalu serius, karena bekerja bukan untuk kehidupan atau
menghidupi keluarga seperti yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.
Namun demikian generasi Y juga tidak lepas dari karakteristik negatif. Pertama, mereka kurang bersyukur, individualisme yang sangat tinggi, dan gampang bosan. Kedua, Generasi Y juga cenderung tidak mau terlalu ambil pusing dan
tak memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. Dalam bekerja, mereka cenderung seperti kutu loncat. Ketika tempat kerja tak lagi menyenangkan atau tidak sesuai dengan gaya hidup, mereka tak segan-segan mencari tempat kerja baru. Sesuatu yang dikejar di perusahaan baru biasanya income tahunan yang lebih tinggi dan prestise bekerja di lingkungan kerja yang lebih keren. Kesempatan untuk traveling juga menjadi alasan kuat bagi generasi ini untuk berpindah kerja. Selain itu, pengaruh ikatan teman juga dengan mudah membuat mereka mengubah karier dan pekerjaan. Ketiga, Generasi Y juga dikenal sebagai generasi yang egosentris, berpusat pada diri sendiri dan senang unjuk diri sehingga kurang menghargai fihak lain. Oleh karena itu sikap mereka cenderung kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Namun demikian generasi Y juga tidak lepas dari karakteristik negatif. Pertama, mereka kurang bersyukur, individualisme yang sangat tinggi, dan gampang bosan. Kedua, Generasi Y juga cenderung tidak mau terlalu ambil pusing dan
tak memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi. Dalam bekerja, mereka cenderung seperti kutu loncat. Ketika tempat kerja tak lagi menyenangkan atau tidak sesuai dengan gaya hidup, mereka tak segan-segan mencari tempat kerja baru. Sesuatu yang dikejar di perusahaan baru biasanya income tahunan yang lebih tinggi dan prestise bekerja di lingkungan kerja yang lebih keren. Kesempatan untuk traveling juga menjadi alasan kuat bagi generasi ini untuk berpindah kerja. Selain itu, pengaruh ikatan teman juga dengan mudah membuat mereka mengubah karier dan pekerjaan. Ketiga, Generasi Y juga dikenal sebagai generasi yang egosentris, berpusat pada diri sendiri dan senang unjuk diri sehingga kurang menghargai fihak lain. Oleh karena itu sikap mereka cenderung kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Dengan memerhatikan
berbagai karakter generasi Y tersebut di atas, hal terpenting yang harus
disikapi oleh setiap Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah adalah bagaimana
memperkenalkan dan menginternalisasi budaya organisasi kepada para CPNS
tersebut. Program dan aksi internalisasi budaya organisasi yang tepat akan
dapat memaksimalkan karakter positip yang dimiliki CPNS, sekaligus
mengurangi sikap negatif yang muncul. Bagaimanapun juga kita menyadari bahwa dalam
kurun waktu beberapa tahun ke depan merekalah generasi yang akan memegang
posisi penting dan strategis di Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah yang
menggantikan generasi sebelumnya.
Internalisasi budaya organisasi sebuah Kementerian/Lembaga dan Pemda terhadap CPNS menurut hemat penulis tidak cukup hanya meneriakkan yel-yel, slogan di suatu pertemuan, dan menempelkannya pada spanduk, banner di lobby atau di ruang-ruang publik semata. Namun jauh yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan sebuah values instansi menjadi beliefs, lalu mempraktikannya dalam kedinasan sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan akhirnya menjadi sebuah culture. Untuk mendorong praktik menjadi sebuah budaya diperlukan intervensi berupa perangkat ketentuan yang mewajibkan seluruh pegawai untuk mentaatinya. Tatanan dari suatu kebijakan yang sistematis, bagus dengan implementasi dan penegakan yang konsisten akan ikut mendorong ke arah positip karakter generasi milenium CPNS kita. Selain itu pimpinan instansi di berbagai tingkatan juga harus menjadi role model bagi pegawai yang dibawahinya dengan kata lain walk the talk menjadi sebuah keharusan. Jika semua hal tersebut terlaksana maka sesungguhnya kita semua tidak perlu khawatir dengan kehadiran adik-adik dan anak-anak kita. Selamat Datang Generasi Y .......Selamat Datang Generasi Milenium............
Sumardi
(Kepala Bagian Organisasi BPKP)










