Pengelolaan sumber daya manusia di
sektor pemerintahan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan di sektor swasta. Obyek
yang dikelolapun sama yaitu manusia, namun yang berbeda adalah pendekatan (model)
serta implementasinya di lapangan. Dalam siklus pengelolaan sumber daya manusia
peningkatan kapabilitas pegawai atau capacity
development dan pengukuran kinerja merupakan dua hal penting yang tidak
dapat ditinggalkan oleh setiap organisasi manapun jika menginginkan untuk tetap
eksis dalam persaingan. Hal ini nampaknya senada sebagaimana dikemukakan oleh Jack
Welch mantan Chief Executive Officer General
Electric bahwa kemampuan suatu organisasi untuk mengadopsi perkembangan
pengetahuan di sekitarnya dan mengimplementasikan dengan cepat merupakan suatu
keunggulan kompetitif terbaik. Namun demikian dalam pelaksanaan di berbagai
unit kerja pemerintahan hal tersebut nampak belum disadari sepenuhnya oleh
pimpinan di semua level dalam suatu
unit organisasi. Hal ini dapat saja terjadi karena beban kerja rutin yang
berlebihan atau overload sehingga
pimpinan di level bawah dan menengah sehingga
tidak mempunyai waktu cukup untuk menganalisis masalah yang menyebabkan
terjadinya penurunan kinerja pegawai di bawahnya. Dalam kondisi tertentu
pimpinan seringkali mengambil jalan pintas dalam menyikapi penurunan kinerja
pegawai dengan cara memberikan atau menyerahkan penugasan kepada pegawai
lainnya yang dianggap lebih mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan. Cara
demikian secara jangka pendek dapat menyelesaikan masalah, namun sebenanrnya secara
jangka panjang dapat menimbulkan masalah tersendiri yang sewaktu-waktu dapat
timbul di permukaan.
Deep
Survey
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia
dalam suatu organisasi sebenarnya dilakukan untuk mengisi gap yang terjadi karena perbedaan antara kinerja saat ini atau current performance dibandingkan dengan
kinerja yang diharapkan oleh organisasi atau desired performance. Namun demikian sesungguhnya penurunan kinerja yang
didekati dengan solusi tindakan peningkatan kapasitas pegawai atau capacity development hanya tepat jika
permasalahanya adalah karena masalah kompetensi dan motivasi. Oleh karena itu
survei mendalam atau deep survey harus
dilakukan oleh suatu unit organisasi manakala terjadi penurunan kinerja pegawai
atau terjadi praktik penumpukan tugas pada sebagian kecil pegawai. Melalui survei
tersebut diharapkan akan diperoleh jawaban penyebab terjadinya penurunan
kinerja pegawai.
Menurut GML Performance (2013), berdasarkan survei terhadap penurunan kinerja
pegawai akan diperoleh minimal empat tingkat masalah keterkaitan yaitu masalah
tersebut menyangkut seluruh unit organisasi, menyangkut dua atau lebih
bidang/bagian dalam suatu organisasi, terkait dengan satu bagian/bidang
tertentu saja, ataupun masalah tersebut hanya terkait dengan satu atau beberapa
pegawai saja. Masing-masing hasil survei tersebut akan sangat menentukan
tindakan intervensi untuk pemecahan masalah yang terjadi. Disamping itu
berdasarkan survei masalah penurunan kinerja dapat diperoleh minimal tiga
penyebab yaitu kurangnya kompetensi, kurangnya motivasi, dan kurangnya sumber daya manusia. Kurangnya
kompetensi berarti pegawai tidak memahami bagaimana harus menyelesaikan suatu
penugasan, sedangkan kurangnya motivasi berarti dia memahami penugasan namun
pegawai yang bersangkutan tidak ingin melakukan melaksanakan pekerjaan tersebut
secara optimal. Adapun kurangnya sumber daya
manusia berarti organisasi tidak memiliki pegawai yang jumlahnya cukup
untuk menyelesaikan suatu penugasan. Masalah yang muncul sehubungan dengan
kurangnya kompetensi misalnya gaya kepemimpinan yang tidak tepat, kelemahan
dalam menyusun rencana dan mengorganisasi, kesalahan dalam pendelegasian
wewenang, kelemahan dalam menganalisis dan memecahkan masalah serta kemampuan
berkomunikasi. Beberapa masalah tersebut jika tidak segera mendapatkan tindakan
pengembangan yang tepat akan menyebabkan penurunan kinerja pegawai. Sedangkan
masalah yang muncul sehubungan dengan
kurangnya motivasi misalnya pegawai merasa kurang dihargai, konflik dengan
rekan dalam satu tim atau atasan langsungnya, serta kurangnya dukungan dari
atasan juga dapat menyebabkan kinerja pegawai semakin menurun.
Model Capacity
Development
Jika permasalahan kinerja disebabkan
oleh dua hal pertama yaitu masalah
kompetensi dan motivasi maka intervensi yang harus dilakukan oleh organisasi
adalah melalui peningkatan kapasitas pegawai. Namun demikian intervensi tersebut
juga harus tepat atau sesuai dengan model
capacity development agar dapat menjawab permasalahan penurunan kinerja
yang dihadapi oleh pegawai. Terdapat beberapa model pengembangan kapasitas
pegawai yaitu pertama, pendidikan dan pelatihan (diklat) dan atau pelatihan di
kantor sendiri. Jenis intervensi ini tepat jika penurunan kinerja pegawai
disebabkan oleh ketidakfahaman mengenai suatu topik atau dikeluarkannya
ketentuan atau metode baru yang mengharuskan pegawai untuk mengetahuinya.
Misalnya diterbitkannya ketentuan baru mengenai pengadaan barang dan jasa di
lingkungan pemerintah atau dikeluarkannya pedoman mengenai standar akuntansi
pemerintah yang baru.
Kedua, rotasi atau mutasi. Jenis
intervensi ini tepat jika penurunan kinerja pegawai disebabkan oleh kebosanan
terhadap penugasan tertentu sehubungan dengan lamanya pegawai bertugas dalam
suatu bidang/bagian. Tindakan rotasi atau mutasi intern pada dasarnya sangat
bagus dalam rangka memperluas pengalaman, pengetahuan dan wawasan pegawai. Namun
demikian yang harus diperhatikan adalah perlunya menyeimbangkan antara
kebutuhan pegawai untuk penyegaran atas tugas-tugasnya dengan kinerja
organisasi secara keseluruhan.
Ketiga, pementoran atau mentoringship. Jenis intervensi ini
tepat dilakukan terhadap pegawai yang baru dipindahkan ke suatu bidang tertentu
namun tidak kunjung memperlihatkan kinerja yang bagus. Hal tersebut dapat
disebabkan karena lambatnya pegawai yang bersangkutan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru atau
penugasan di bidang yang baru tersebut karakteristik penugasannya memang lebih
rumit dibandingkan bidang penugasan sebelumnya. Pegawai yang bermasalah dengan
kinerja tersebut sebaiknya dilakukan pendampingan dalam bentuk mentoringship
oleh pegawai yang lebih senior atau atau yang lebih ahli dari yang
bersangkutan. Tindakan intervensi ini diharapkan secara bertahap akan
mengembalilkan capaian kinerja pegawai sebagaimana diharapkan oleh
atasannya.
Keempat, counseling. Jenis intervensi ini tepat jika penurunan kinerja
disebabkan oleh masalah-masalah pribadi yang dialami oleh pegawai. Permasalahan
pribadi tersebut dapat berasal dari keluarga pegawai yang bersangkutan atau
permasalahan dengan rekan atau atasan langsungnya di kantor. Tindakan counseling secara prinsip dilakukan oleh
counselor untuk membantu pegawai
dalam memandu memecahkan masalahnya. Semakin cepat terurai masalah yang
dihadapinya akan semakin memicu pegawai yang bersangkutan untuk dapat
melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan nanti akan berujung pada peningkatan
kinerja pegawai.
Kelima, studi literatur. Jenis
intervensi ini tepat jika penurunan kinerja pegawai disebabkan oleh belum
difahaminya suatu topik penugasan tertentu namun pegawai tersebut mempunyai
karakter yang kuat sebagai pribadi yang introvert.
Jika pegawai dengan karakter ini didekati dengan model diklat yang melibatkan
banyak orang maka tingkat keberhasilannya tidak maksimal. Dalam model
pengembangan kapasitas tersebut pegawai diberikan penugasan untuk membaca dan
memahami sejumlah literatur tertentu dan selanjutnya yang bersangkutan diminta
untuk membuat simpulan untuk disampaikan kepada atasannya.
Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pengembangan kapasitas pegawai mempunyai kaitan erat dengan
kinerja. Penurunan kinerja pegawai dalam melaksanakan penugasan harus
dianalisis secara mendalam oleh suatu organisasi untuk mengetahui penyebabnya.
Dengan diketahuinya penyebab penurunan kinerja pegawai maka dapat dilakukan
intervensi tindakan yang tepat untuk memecahkan masalah penurunan kinerja
pegawai. Tindakan intervensi dalam program capacity
development tidak hanya berupa diklat atau pelatihan kantor sendiri namun
masih terdapat jenis tindakan lain yang pemilihannya didasarkan pada akar atau penyebab masalah penurunan kinerja
pegawai.










