Seorang sahabat yang dalam
kesehariannya bekerja di unit layanan kepegawaian, dalam suatu kesempatan di jam
istirahat menghampiri penulis dan bercerita mengenai kehebatan program yang baru
saja disusun untuk lima tahun ke depan untuk mengembangkan pegawai di
lembaganya. Dalam perbincangan hangat tersebut tidak lupa diselipkan kata-kata asing
yang selama ini hanya familiar di
kalangan praktisi sumber daya manusia (SDM) seperti resign, human asset value, job class, human capital readiness dan talent pool. Bahkan dengan bangganya
sahabat tersebut mengatakan bahwa berbagai aksi yang dilakukan selama ini di
unit kerjanya merupakan bagian dari human
capital management dan bukan lagi sekedar human resources management, dengan gaya meyakinkan. Penulispun
mencoba faham dan terpaksa “manggut-manggut” tanda setuju.
Berkaca pada kejadian tersebut penulis
mencoba memahami dua sebutan terakhir yaitu human
capital management dan human
resources management yang seringkali tidak tepat penggunaannya. Dua sebutan
tersebut sebenarnya merupakan bagian dari transformasi pengelolaan pegawai atau
karyawan dari masa ke masa yang masing-masing mempunyai karakteristik khusus
sebagai penandanya. Dalam transformasi pengelolaan pegawai saat ini dikenal
lima era penting yaitu Personalia, Human
Resources Management, Competency
Based Human Resources Management (CBHRM), Human Capital Management, dan Talent Management. Dalam kesempatan ini
tidak akan dibahas penanda era tersebut satu persatu, namun tulisan ini akan
lebih fokus membandingkan penanda era human
resources management dengan era human
capital management dengan harapan tidak terjadi “salah kaprah” dalam
penggunaannya. Sungguh sangat tidak tepat jika dalam praktik kesehariannya
sebuah instansi masih berkutat untuk memperbaiki administrasi kepegawaian, mengawasi
disiplin pegawai, dan belum mampu memberikan kontribusi untuk mencapai tujuan
strategis organisasi namun dirinya sudah mendeklarasikan diri sebagai Human Capital Management Unit.
Mengutip penjelasan Octa Melia Jalal yang
menjabat sebagai Direktur Eksekutif Program Pengembangan PPM Management dalam
sebuah kesempatan Forum Human Resources bulan April 2013 di Jakarta menyampaikan
bahwa terdapat minimal tiga penanda di masing-masing era tersebut. Pertama, pada
tahap human resources management
dalam hal people selalu tersedia di
bursa tenaga kerja dan mudah mendapatkan kembali pada waktu dibutuhkan oleh
organisasi. Adapun di era human capital
management maka people dipandang
sebagai salah satu modal yang untung dan ruginya sangat tergantung pada
seberapa banyak instansi melakukan investasi terhadap people tersebut. Oleh karena itu people dianggap sebagai aset utama diantara semua aset yang
dimiliki oleh sebuah organisasi.
Kedua, pada tahap human resources management, memperlakukan people sebagai sumber daya yang habis dikonsumsi sehingga seberapapun
biaya yang dikeluarkan untuk pengelolaan SDM diperlakukan sebagai expense. Berbeda halnya dengan tahap human capital management, people
diperlakukan sebagai komoditas yang bernilai yang harus dikembangkan
kemampuannya sebagaimana jenis asset lainnya. Human capital management mempunyai premis bahwa people merupakan aset dinamis yang dapat
terus-menerus naik nilainya tanpa harus dilakukan depresiasi sebagaimana aset
tetap lain seperti bangunan, kendaraan dan peralatan/mesin yang dimiliki oleh
sebuah organisasi.
Ketiga, pada tahap human resources management, ketika
instansi mengeluarkan dana untuk keperluan pegawai umumnya instansi tersebut
tidak pernah tahu perhitungan rinci hasil nyatanya. Pengeluaran dana untuk
keperluan peningkatan kapasitas pegawai masih sebatas pada tujuan untuk mengisi
gap antara kompetensi yang dimiliki
oleh pegawai dibandingkan dengan tuntutan minimal standar kompetensi jabatan di
masing-masing job-nya. Sedangkan pada
tahap human capital management,
instansi harus dapat mengukur return
atas investasi yang dikeluarkan untuk pegawai. Sehingga tidak mengherankan jika
dalam tahapan ini kegiatan training
untuk pengembangan pegawai juga dihitung nilai untung dan ruginya bagi sebuah organisasi.
Dalam tahap ini dikenal istilah return on
training investment (ROTI).
Organisasi yang sudah pada tahap human capital management umumnya
mempunyai pandangan bahwa organisasilah yang membutuhkan orang atau organization needs people bukan
sebaliknya orang yang membutuhkan organisasi sebagaimana terjadi di era human resources management. Tentu saja
perlakuan antara keduanyapun sungguh sangat jauh berbeda. Recruitment specialist pada organisasi yang sudah pada level human capital management pasti akan
menyambut gembira para pegawai yang baru diterima dan dengan senang hati sambil
berucap “selamat datang dan terimakasih anda sudah bersedia bergabung dengan
kami untuk bersama-sama memajukan organisasi ini”. Bahkan sebuah bank swasta
nasional di Jakarta merasa perlu membuat pesta khusus untuk menyambut
kedatangan pegawai baru dan disalami oleh dewan direksi beserta komisaris perusahaan. Perlakuan tersebut
tentu saja menimbulkan kesan tersendiri, dan menimbulkan kebanggaan bagi para pegawai
baru sehingga mendorong yang bersangkutan untuk tetap engaged terhadap organisasi. Beberapa organisasi yang lain
menyambut pegawai baru dilakukan dengan cara tersendiri, misalnya membuatkan
email masing-masing pegawai dengan domain perusahaan yang diisi dengan “welcome note” sebagai wujud salam kehangatan
kepada anggota keluarga baru di organisasi tersebut.
Perlakuan lainnya adalah dengan memberikan fasilitas seperangkat kerja (laptop, stationery, meja dan kursi) agar
mereka benar-benar nyaman dalam bekerja.
Pada tahap selanjutnya organisasi juga
menyiapkan tempat disesuaikan dengan minat atau bakat pegawai dan didampingi
oleh masing-masing mentor untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan di awal
tahun. Pemantauan kinerja pegawai juga dilakukan secara terus-menerus dan jika
terdapat penurunan kinerja baik karena masalah pribadi atau hal lain maka
organisasi akan menyediakan fasilitas couching
dan counseling untuk membantu
pegawai dalam memecahkan masalahnya sehingga
kinerja dapat naik kembali. Untuk mengetahui talenta pegawai dilakukan
identifikasi dan asesmen untuk mengisi talent
pool yang nantinya sebagai bahan diseleksi untuk menggantikan peran
pimpinan di masing-masing unitnya. Dalam hal ini jalur karir juga harus jelas
sehingga pegawai dapat merencanakan karir sejak awal bergabung pada suatu
organisasi. Pengembangan juga dilakukan secara terbuka dan fair sehingga dapat mendorong pegawai untuk bersaing secara sehat.
Kehilangan pegawai potensial dalam sebuah organisasi yang sudah dalam tahap human capital management akan dianggap
sebagai kerugian besar bagi mereka. Oleh karena itu mereka umumnya menyiapkan
program untuk menahan pegawai agar tetap bersedia bergabung dalam organisasi
tersebut.
Lalu dimana contoh organisasi yang
sudah pada level human capital management ? Salah satu Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang telah mendeklarasikan pengelolaan pegawainya dengan
sebutan human capital management
adalah PT Telkom. Perusahaan tersebut saat ini telah melakukan transformasi
dari human resources management ke human capital management melalui
peningkatan kapabilitas dan membangun komitmen karyawannya. Perusahaan tersebut
juga melakukan program shifting
competencies terhadap karyawannya dari bisnis telekomunikasi ke bisnis new wave. Transformasi tersebut
dilakukan dengan tujuan human caiptal
department dapat menjalankan misinya sebagai mitra strategis dalam mendukung strategi bisnis perusahaan
sehingga perannya tidak hanya sebagai pendukung atau enabler namun lebih dari itu menjadi performance driver atau creating
value. Nah, dengan demikian barangkali sudah lebih memperjelas bagaimana
kita seharusnya menggunakan sebutan human
resources management atau human
capital management.






0 komentar:
Posting Komentar